Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2012

Short Story: Kopi, Cookie, Garam, dan Merica

Kopi, Cookie, Garam, dan Merica
Oleh: Rima Muryantina


Merica dan garam sudah tercampur di kopi yang kusiapkan untuk Si Boss Besar. Si Boss Besar yang sudah kulayani selama 5 tahun terakhir. Tiga potong cookie kesukaanna kusematkan di dekat cangkir berisi kopi berisi garam dan merica itu, hanya supaya dia dapat meredakan rasa garam dan rasa asin yang tak tertahankan.

Aku telah mengenalnya sejak aku baru saja menapak jejak di alam bebas setelah bertahun-tahun menempa ilmu; eh, tidak juga, sih; maksudku, menempa formalitas-formalitas di berbagai institusi pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Pada saat itu, mataku masih terlalu lugu untuk melihat dan memahami bagaimana pahit manisnya dunia kerja. Pada saat itu, aku masih melihat dunia ini dapat dilihat dari sudut pandang benar-salah yang ditawarkan buku-buku pelajaran dan buku-buku kuliah. Bukan berarti para peneliti, para pengajar, dan para penulis buku itu salah. Hanya saja, untuk mengenali kebenaran dan kesalahan itu terasa lebih sulit di dunia nyata karena kompleksitas kepentingan-kepentingan dan alur hidup manusia yang tidak mudah ditebak.

Pada saat itulah aku bertemu dengan Si Boss Besar yang sejak saat itu selalu kusediakan kopi setiap paginya. Itu memang tidak tertulis di job description-ku sebagai sekretaris, tapi saat itu, sebagai sekretaris junior dari sebuah perusahaan besar, itulah pekerjaan pertama yang dititahkan padaku oleh pengawasku, sang sekretaris senior. Sekarang, ketika aku sudah menjadi sekretaris senior, aku masih melakukannya. Bukan karena aku suka dengan pekerjaan yang remeh-remeh, tapi karena Si Boss percaya bahwa kopi adukankulah yang paling memenuhi selera cita rasa tingginya sebagai pecinta kopi. Dan tentunya, karena aku selalu tahu jenis cookie apa yang dia sukai, dan tahu bagaimana meletakkan cookie tersebut dengan posisi seelegan mungkin sehingga Si Boss merasa seperti dilayani di hotel-hotel bintang lima yang berkelas. Setidaknya, dia berimajinasi seperti itu.

Pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah perusahaan besar memang cukup berharga diri bila kita melihat jumlah gaji yang tersedia (bahkan di tahap awal pun jumlahnya sudah menggiurkan) dan tentunya bila dilihat dari sisi lokasi (siapa yang tidak mau bekerja di kawasan Sudirman?).

Tidak, mulanya aku tidak membenci Si Boss Besar. Dia hanya seperti boss-boss biasa yang terlihat rapi, rupawan, wangi, bersih, dan tentunya terlihat “kaya” serta berwibawa dan pintar. Kadang dia terdengar menyebalkan karena mencampur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di hampir setiap kalimat yang dia ucapkan. Namun hal ini tidak apa-apa, karena demikianlah cara berbicara semua orang berjabatan tinggi yang kantornya berlokasi di SCBD.

Dia tidak pernah telat memberiku gaji, tunjangan, dan hak-hakku yang lain. Kadang dia memarahi bawahannya, tapi masih dalam kaidah-kaidah profesionalisme. Aku sendiri kenal ayahku sebagai pemimpin yang paling galak dan paling pemarah baik di rumah maupun di kantor, karena itu amarah Si Boss Besar ini sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah bagiku.

Satu hal yang mungkin agak menjadi tekanan adalah perfeksionisme Si Boss yang sangat tinggi. Dia selalu menuntut kesempurnaan dan keeleganan di setiap pekerjaan, baik pekerjaan karyawan-karyawannya, maupun pekerjaannya sendiri. Seperti yang kuceritakan tadi, bahkan untuk penyajian kopi dan cookie¬-nya setiap pagi pun, dia menuntut kesempurnaan. Tapi sekali lagi, hal ini tidak apa-apa. Semua pemimpin yang berhasil memang harus menuntut kesempurnaan, dan kurasa ini sebabnya dia bisa menjadi pemimpin perusahaan ini.

Lantas tentunya anda pasti semakin bertanya-tanya mengapa aku harus sampai hati mencampurkan merica dan garam ke dalam kopi yang kusediakan untuk Si Boss , sekalipun cookie-nya tetap kuhidangkan seelegan mungkin sehingga sebelum meneguk kopi itu, beliau tidak akan sadar bahwa aku berniat buruk padanya.
Mari kujelaskan secara lebih rinci.

Kesempurnaan dan keeleganan yang selalu ditekankan Boss-ku ini nampaknya telah mempengaruhi diriku lebih daripada kedua hal tersebut mempengaruhi dirinya sendiri. Sebagai sekretaris yang baik, aku berusaha menyerap semua ilmu yang kupelajari dari pekerjaan-pekerjaan kantor, termasuk filosofi kerja yang diajarkan oleh Si Boss Besar. Oleh karenanya, aku selalu menekankan kesempurnaan dan keeleganan di setiap hasil kerjaku, bahkan untuk hal sekecil menyediakan kopi dan cookie untuk Boss di pagi hari.

Oleh karena itu, tentunya terbayangkan betapa paniknya aku ketika mengetahui bahwa hari Jumat pekan lalu aku tak menyadari bahwa persediaan cookie kesukaan Boss-ku telah habis. Aku takut pekerjaanku kali ini tidak sempurna. Aku memaki diriku sendiri yang terlalu fokus dengan pekerjaan lain sehingga melupakan pekerjaan yang ini. Lalu aku langsung memikirkan beberapa alternatif untuk membeli cookie baru. Jika aku ingin membelinya di mall dekat kantorku, belum ada mall yang buka saat itu karena aku datang pagi-pagi sekali. Bila aku kembali pulang untuk membeli cookie di toko 24 jam yang ada di dekat rumahku, akan makan waktu yang sangat lama, dan Boss-ku akan lebih marah lagi mendapati tidak ada kopi dan cookie di mejanya, atau yang lebih parah lagi, mendapati kopi tanpa cookie di mejanya.

Akhirnya aku berlari ke warung di dekat kantor, berharap ibu-ibu warung yang baik hati yang biasa berjualan di sana sudah datang dan menjual cookie yang bermerk sama dengan yang biasa dimakan oleh Boss-ku. Alhamdulillah, si ibu pemilik warung benar sudah datang. Aku menanyakan apakah dia menjual cookie bermerk tersebut. Dan ya, dia menjualnya. Pagi itu, si ibu pemilik warung terlihat bagaikan malaikat bagiku.
Jadi kusiapkan kopi dengan gula dengan takaran yang disukai Boss-ku, dengan cangkir, piring kecil, dan sendok pengaduk yang disukai Boss-ku. Kadar air panasnya pun sudah kuatur sesuai dengan kesukaan beliau. Susu kupisahkan di sebuah tempat terpisah sesuai dengan yang dipesankan Boss. Kuaduk kopi itu dengan adukan tertentu sehingga kupastikan rasa kopi itu akan berbeda dengan kopi yang diaduk oleh tangan-tangan yang tidak terlalu mahir. Kemudian kuambil dua butir cookie yang kuletakkan di sisi cangkir di atas piring kecil yang menopang cangkir kopi tersebut, dengan posisi elegan yang disukai Boss. Kemudian kubiarkan sisa cookie tersimpan di dalam bungkus cookie yang agak robek sedikit dan kuletakkan dengan jarak ¾ jengkal dari cangkir kopi, sesuai yang diinginkan Boss.

Dan akhirnya Jumat itu kuhidangkan kopi dan cookie untuk Boss-ku dengan cara yang sama seperti yang kulakukan tiap harinya. Hanya saja, kali ini cookie kesukaannya dibeli di warung depan, bukan di supermarket.

Ya, hanya perbedaan sekecil itu. Hanya perbedaan yang sekecil itu dan Boss-ku mengetahuinya. Waktu dia memanggilku untuk menanyakan jadwalnya hari ini, hal pertama yang dikomentari olehnya sebelum masuk ke pokok pembicaraan penting adalah masalah cookie itu.

Sambil tertawa dengan nada yang terdengar meremehkan bagiku, dia berkata, “Ah, Lis... Kamu pasti belinya di warung-warung biasa, nih. Makanya rasanya beda. Payah.”

Payah? Dia bilang payah? Aku sudah memberikan segalanya untuk pekerjaanku agar mencapai kesempurnaan dan keeleganan yang dia inginkan. Berani-beraninya dia mengucapkan kata-kata tersebut padaku. Bila dia sudah lupa bagaimana susah payahnya menjadi bawahan, maka dia bisa bertukar posisi denganku dan merasakan datang paling pagi, pulang paling malam, memperhatikan segala detail, lalu baru dia bisa katakan padaku apa itu payah.

Jadi akibat ulah kata-katanya yang menyakiti hati dan harga diriku sebagai seorang sekretaris yang selalu menuntut kesempurnaan dan keeleganan itu, selama Jumat malam hingga Minggu malam aku tersedu-sedu di rumah. Orang tuaku cemas menganggap kejiwaanku sudah terganggu. Mungkin mereka benar. Aku sudah tidak bisa jadi orang payah. Jiwaku selalu menuntut kesempurnaan dan keeleganan di setiap hal yang kuperbuat. Dari situ aku menyadari bahwa bekerja di perusahaan itu membuat jiwaku tidak bebas lagi. Akhirnya pada Senin paginya, aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku. Dengan caraku sendiri.

*******
Maka pada hari Senin, pagi ini, aku tidak datang ke kantor sepagi biasanya. Cookie yang kudapat dari warung kemarin tidak kuganti dengan cookie yang dibeli di supermarket kesukaan Boss-ku. Posisi cookie kubuat asal-asalan dan kubiarkan serpihan cookie mengotori meja Boss-ku. Aku tidak lagi mengaduk kopi tersebut dengan sungguh-sungguh. Bahkan yang kucampurkan ke dalam kopi itu bukanlah gula, melainkan garam dan merica (semoga Boss-ku tersedak saat meminumnya). Susu pun tidak kusediakan. Saat kuletakkan cangkir kopi tersebut di meja Boss-ku, pergerakanku agak kasar sehingga kopi pun agak tumpah ke meja.

Namun aku tak peduli. Memang itu yang kuharapkan. Aku ingin segera dipecat. Selama ini kadang-kadang aku mengharapkan Boss segera memecatku entah bagaimana caranya. Tapi karena aku tidak bisa tidak mengerjakan pekerjaan dengan tidak sempurna, maka Boss-ku pun tidak punya alasan untuk memecatku. Kali ini, dia tidak punya alasan lagi.

Lantas aku menunggu. Menunggu untuk segera dipanggil dan dipecat.

****
Pukul 10 pagi, itulah saat Boss-ku datang. Dia memang biasa datang jam segitu, karena dia Boss.
Biasanya dia akan langsung memanggilku beberapa menit setelah memasuki ruangannya. Akan tetapi, pagi ini, saat berjalan melewatiku, belum sempat masuk ke ruangannya, dia sudah langsung memanggilku. “Lisa, ikut ke ruangan saya,” begitu katanya.

Aku pun menurut. Meskipun dengan ekspresi yang tidak sepenurut biasanya. Sementara itu, Si Boss Besar terlihat lebih ceria daripada biasanya. Dia bahkan tak menyentuh kopi dan cookie yang kuletakkan secara tidak ikhlas di mejanya. Dia bahkan tidak menyadari adanya sedikit kekotoran di meja kerjanya. Padahal biasanya dia tidak mau ada kotoran setitik pun di meja kerjanya.

“Lis, duduk dulu,” ujarnya dengan sopan. Aku duduk. Tidak seelegan biasanya.
Lalu dia yang biasanya berputar-putar dulu dengan pembukaan ala direktur-direktur perusahaan besar kali ini langsung menyatakan maksudnya tepat pada sasaran.

“Saya mau mempromosikan kamu ke departemen lain,” ujar Si Boss Besar mantap.

Mataku membelalak. Tentu tidak semudah itu aku percaya dengan apa yang dinyatakan Si Boss. Tapi untuk apa beliau bergurau untuk hal sepenting ini?

“Ya, saya pikir kerjamu terlalu bagus untuk terus menerus jadi sekretaris. Sudah saatnya kamu mengembangkan karier. Kebetulan di bagian HR ada posisi yang cocok dengan kamu. Kamu kan paling jago soal ide-ide pengembangan karyawan gitu. Lagian interpersonal relationship kamu ke pegawai-pegawai lain juga bagus,” jelas Si Boss panjang lebar.

Aku terpaku. Boss agak heran dengan ekspresiku yang lebih datar daripada biasanya. Kemudian dia bertanya lagi, “Gimana, kamu mau?”

Boss memakan segigit cookie yang ada di sisi cangkir kopi. Dia tidak peduli kalau cookie itu hari ini terlihat berantakan. Dia bahkan tidak mengomentari bahwa rasa cookie itu seperti rasa cookie yang dibeli di warung depan.

Aku masih belum bersuara. Mulutku sudah mulai terbuka tapi otakku masih memproses baik-baik segala informasi yang demikian mendadak ini. Terlebih karena informasi itu kini berbenturan dengan rencana-rencana pengunduran diri yang tidak lazim yang sudah kususun baik-baik sejak Subuh tadi.

Kemudian, saat aku mulai mengucapkan bunyi “A...” sebagai pemanasan untuk melatih caraku menjawab tawaran yang harus terlihat dan terdengar sesempurna dan seelegan mungkin, Si Boss Besar mulai mengangkat cangkir di atas mejanya.

Cangkir yang sudah kuisi kopi yang kucampur dengan garam dan merica di dalamnya.

Jakarta, 12 Februari 2012

Rabu, 28 September 2011

Short Story: Roda (for my Mom's 60's birthday) :)

Roda
Oleh: Rima Muryantina


Kisah ini adalah kisah nyata. Setidaknya saya menyebutnya nyata karena saya mengalaminya. Berawal belasan tahun yang lalu ketika saya masih menjadi guru pemula. Saya mengajar PLKJ. Pendidikan Lingkungan dan Kehidupan Jakarta. Apa yang ada di benak pemerintah saat mewajibkan mata pelajaran itu diajarkan di sekolah-sekolah saat itu juga saya tidak mengerti. Saya, sebagai guru, yang tidak pernah berencana jadi guru namun tiba-tiba saja takdir membawa saya ke takdir yang sedemikian, saat itu juga bingung dengan signifikansi mata pelajaran tersebut sehingga harus dikhususkan menjadi suatu mata pelajaran. Saya bahkan saat itu agak heran mengapa mata pelajaran PLKJ tidak digabung saja dengan PKJ bila benar-benar dibutuhkan suatu mata pelajaran yang membuat anak-anak menguasai pengetahuan tentang Jakarta. Sama bingungnya ketika dulu mata pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dipisah dengan mata pelajaran IPS sedangkan sejarah internasional tetap digabung dengan IPS. Sama seperti saya bingung mengapa bila sudah masuk ke jenjang SMP, tata boga dan tata busana harus dipisah dan mengapa seni lukis dan seni musik dipisah, dan mengapa elektronika harus jadi mata pelajaran tersendiri terlepas dari fisika.
Tapi bukan pembagian mata pelajaran itu yang hendak saya ceritakan dan peributkan di sini. Saya akan menceritakan sesuatu yang sampai saat ini akan selalu saya kenang dan akan selalu menghantui saya selagi saya masih berprofesi sebagai guru meskipun sudah berganti-ganti mata pelajaran. Ini adalah kisah tentang seorang ibu dan seorang anak dari keluarga Blakblakan.
Tidak, saya tidak sedang bercanda. Dan saya tidak salah tulis. Nama keluarga mereka memang Blakblakan. Saya pun tidak mengetahui dari suku di Indonesia bagian mana nama keluarga itu berasal. Yang jelas, bila kita menganggap nama keluarga tersebut memiliki arti yang sama dengan kata ‘blak-blakan’ yang sering kita dengar dalam bahasa Indonesia kontemporer, saya rasa nama tersebut sesuai dengan kepribadian ibu dan anak yang sedang saya ceritakan ini. Mereka sangat blak-blakan. Mungkin bisa dibilang, terlalu blak-blakan.
Seandainya saya tidak pernah bertemu muka langsung dengan mereka atau tidak pernah terlibat dalam beberapa situasi yang mengharuskan saya untuk menghadapi mereka, mungkin saya tidak perlu mengingat-ngingat mereka selama bertahun-tahun sampai-sampai saya merasa wajib menceritakan kisah ini ke orang lain, hanya agar tidak bertumpuk di kepala saya sendiri. Tapi begitulah adanya. Saya pernah bertemu mereka. Dan terlibat masalah dengan mereka. Ibu dan Anak Blakblakan.
Hal itu bermula ketika saya harus mengajar Putri Blakblakan. Sekali lagi, saya tidak bercanda dan saya tidak berniat menghina. Namanya memang Putri dan nama keluarganya memang Blakblakan. Putri Blakblakan, saat itu, sedang duduk di bangku kelas 1 SD. Dan saya saat itu pertama kali mengajar mata pelajaran PLKJ di sekolah yang sama. Dan karena seperti yang kita semua tahu, sistem rekruitmen dan birokrasi di beberapa institusi pendidikan Indonesia sering kali melanggar prosedur, pada hari itu saya langsung dijebloskan oleh kepala sekolah untuk langsung mengajar di kelas 1B. Tanpa pelatihan, tanpa wawancara. Tanpa kesempatan membaca bahan mata pelajaran. Mereka hanya butuh guru untuk mengajar mata pelajaran yang tak pernah diajarkan sebelumnya. Dan mereka menemukan saya pada detik-detik terakhir sebelum kelas pada hari itu dimulai.
Alhasil, saya yang dapat pekerjaan saja sudah bersyukur memutuskan untuk maju terus pantang mundur. Bukan karena saya pemberani, tapi karena mau tidak mau, suka tidak suka, siapapun harus siap menyelamatkan harga diri dan bersikap layaknya pemberani bila sudah dijebloskan begitu saja ke dalam ruang kelas dan berhadapan dengan sekitar 40 orang anak kecil yang sudah siap meremehkan orang dewasa mana pun yang bertanggung jawab atas mereka. Saya menang umur, mereka menang jumlah. Anda tidak pernah membayangkan bagaimana anak kecil dapat mengeroyok mangsa mereka kapan saja dengan mudah.
Jadilah saya, di depan kelas itu, berusaha keras agar diterima oleh makhluk-makhluk kecil yang tidak saya sukai tapi merupakan alasan utama saya bekerja. Bukan alasan secara langsung, sih. Tapi bisa dibilang, 40 anak ini adalah boss saya. Saya yang bertanggung jawab atas pendidikan mereka. Oleh karena itu, saya harus mengajarkan pada mereka apa saja yang saya tahu tentang lingkungan dan kehidupan Jakarta tanpa harus kehilangan wibawa saya sebagai seorang guru.
Karena saat itu tidak ada ide, saya langsung saja membuka buku cetak PLKJ yang diberikan oleh kepala sekolah beberapa menit sebelumnya yang tentu saja belum sempat saya baca sebelum masuk kelas. Awalnya saya ingin memulai dari bab awal, tapi saya memutusan mencari materi apa dari daftar isi yang saya rasa paling gampang dijelaskan. Oleh karena itu, saat itu saya langsung membahas topik tentang kendaraan-kendaraan Jakarta. Saya merasa cukup menguasai bidang itu. Kendaraan dan lalu lintas Jakarta yang menyedihkan sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Dari situlah, saya mulai menemukan rasa percaya diri untuk mengajar anak-anak tentang kendaraan dan lalu lintas di Jakarta. Terlalu percaya diri, sehingga saya lupa bahwa saya pun bukan orang asli Jakarta.
Kepercayaan diri saya itu sedang tinggi-tingginya membumbung ketika salah seorang siswa laki-laki mengangkat tangan dan bertanya, “Bu, kendaraan roda tiga di Jakarta apa aja ya?”
Saya langsung terpikir dengan becak dan bajaj. Becak pernah saya naiki waktu saya kecil meski saat saya mengajar itu becak sudah tidak beroperasi lagi di Jakarta. Bajaj masih jelas sering saya naiki pada masa itu dan masih ada hingga saat saya bercerita sekarang. Oleh karena itu, saya mengambil dua contoh itu untuk menjawab pertanyaan dari murid saya tersebut.
“Bemo juga rodanya tiga kan, Bu?” ungkap seorang siswi tiba-tiba.
Siswi yang satu ini berbeda dengan siswi-siswi lain. Bahkan berbeda dengan siswa laki-laki yang sebelumnya bertanya. Ia tidak mengangkat tangannya sebelum bertanya. Belum diberi kesempatan berbicara, ia sudah berbicara. Ya. Dia adalah Putri Blakblakan.
Lalu saya, yang sebelum kuliah tinggal di Surabaya, memutar otak saya untuk mengingat apa benar bahwa bemo rodanya tiga. Tapi otak dan memori saya saat itu mengatakan, “tidak.” Ya, saya saat itu menjawab tidak, karena saya ingat betul saya sering naik bemo di Surabaya, dan bemo yang saya naiki rodanya empat.
“Tidak, bemo rodanya empat,” saya mempertegas jawaban saya pada Putri Blakblakan.
Mata kecil Putri Blakblakan tiba-tiba membelalak, seolah tidak terima dengan jawaban saya. Lantas ia berkata lagi. Tanpa mengangkat tangan. Tanpa diberikan kesempatan bicara. “Tapi setahu saya bemo rodanya tiga, Bu.”
Muka saya mulai memerah dan kepala saya saat itu panas. Saya tidak mau dipermalukan di depan murid-murid pada hari pertama saya mengajar. Apalagi dipermalukan oleh anak kecil yang menurut saya saat itu, tidak tahu apa-apa dibandingkan saya yang lebih memiliki pengalaman hidup dan mengetahui banyak hal.
“Tidak, bemo rodanya empat, sayang,” ujar saya mempertegas ucapan saya namun berusaha menambahkan kata ‘sayang’ sebagai eufimisme agar keadaan tidak menjadi terlalu tegang.
“Tapi ibu saya bilang dulu waktu dia kecil dia pernah naik bemo di Jakarta dan rodanya tiga,” Putri Blakblakan mempertegas argumennya.
“Tapi ibu juga pernah naik bemo waktu kecil dan bemo rodanya empat,” nada bicara saya saat itu mulai melenceng ke kekesalan. Tapi saya masih berusaha menahan.
“Ibu naik bemonya di Jakarta?” anak itu bertanya lagi dengan nada yang sederhana namun membuat saya kesal. Seolah meragukan kemampuan saya dalam mata pelajaran Pendidikan Lingkungan dan Kehidupan Jakarta, yang menurut saya tidak seberapa susah dibandingkan pelajaran matematika.
“Bemo di mana-mana sama saja! Mau di Jakarta, mau di Surabaya, semuanya rodanya empat!” Amarah saya lepas juga. Seisi kelas terdiam memandangi kami berdua. Putri Blakblakan pun diam. Wajahnya nampak belum menerima pendapat saya, tapi ia sejenak menahan dirinya untuk tidak berpendapat.
Saya menghela nafas sejenak, berpikir bahwa saya dapat mengendalikan situasi. “Coba lihat saja di sinetron Si Doel. Mandra mengendarai bemo. Empat kan rodanya?” Saat saya mengucapkan argumen tersebut, terlihat beberapa siswa lain tersenyum dan mengangguk seolah mengiyakan pendapat saya. Saya hampir menang.
Tapi kemudian Putri Blakblakan menyambar dengan lantang, “Tapi yang di sinetron Si Doel itu opelet, Bu. Saya nonton Si Doel tiap hari.”
Wajah saya saat itu merah padam. Anak-anak lain yang tadinya mulai tersenyum dan mengangguki argumen saya tiba-tiba mengubah ekspresi wajah mereka. Bahkan ada anak lain yang mengiyakan bahwa memang benar yang dikendarai Mandra itu adalah opelet.
“Sudah! Cukup! Kalau Ibu bilang rodanya empat, ya rodanya empat! Kalau tidak mau menurut kamu berdiri di luar saja!”
Maka ia pun berjalan keluar kelas dan berdiri di luar melegalkan keengganannya untuk tidak mau menurut pada saya.
Dan demikian Putri Blakblakan adalah murid pertama yang saya hukum karena saya bersikeras bahwa bemo rodanya empat dan dia bersikeras bahwa bemo rodanya tiga. Saat itu, saya belum memahami bahwa kendaraan yang biasa disebut bemo di Surabaya berbeda dengan bemo yang dikenal oleh masyarakat Jakarta. Ya, kalian mungkin berpikir bahwa saya tidak adil, tidak bijak, dan mungkin bodoh karena tidak dapat melihat bahwa hal ini sekedar perbedaan persepsi saja. Tapi ada hal yang lebih mengejutkan daripada sekedar keblak-blakannya dan kekerasan hatinya yang membuat saya sampai saat ini tidak bisa menghargai anak itu bahkan sekalipun dia benar.
Keesokannya, Nyonya Blakblakan, ibunda Putri Blakblakan hadir ke sekolah hendak bertemu dengan saya. Yang lebih parah, ia menghadap kepala sekolah terlebih dahulu dan membicarakan masalah saya dan Putri di depan kepala sekolah. Bu Kepala Sekolah yang mengetahui hal itu langsung memanggil saya ke ruangannya. Saya berhadapan langsung dengan kepala sekolah, Nyonya Blakblakan, dan Putri Blakblakan. Pada saat itu, saya benar-benar merasa dikeroyok.
Nyonya Blakblakan membawa sebuah foto masa kecilnya dengan sopir bemo yang sering mengantarnya berkeliling Jakarta. Di foto itu, jelas bemo tersebut beroda tiga. Kemudian ia memperlihatkan pada saya koran-koran masa lalu yang memberitakan tentang bemo. Foto bemo di koran-koran tersebut juga menunjukkan bahwa bemo adalah kendaraan beroda tiga. Tidak hanya itu, ia bahkan membeli tabloid yang meliput para pemeran Si Doel di balik layar (saat itu Si Doel memang sangat terkenal). Dalam tabloid itu pun ada tulisan yang mencantumkan bahwa kendaraan yang dikendarai Mandra adalah opelet, bukan bemo.
Maka skak mat untuk saya.
Bu Kepala Sekolah menasehati saya bahwa saya harus membedakan istilah bemo di Jakarta dan di Surabaya. Dan karena saya mengajar Pendidikan Lingkungan dan Kehidupan Jakarta, maka Bu Kepala Sekolah menyarankan saya untuk melihat dari perspektif orang Jakarta. Ia juga menambahkan bahwa tidak bijak bagi seorang guru untuk menghukum muridnya hanya karena muridnya mengoreksi kata-kata guru yang salah.
Maka tidak ada jalan lain bagi saya saat itu untuk meminta maaf pada Nyonya dan Putri Blakblakan dengan tulus dan ikhlas. Karena memang itu yang harus saya lakukan.
Tapi sejak saat itu saya selalu takut dan berhati-hati dalam mengajar. Segala detail saya perhatikan dengan seksama. Saya tidak mau salah lagi dan tidak mau menanggung malu lagi di depan para pelajar. Sebenarnya pertemuan saya dengan ibu dan anak Blakblakan itu memang menghadirkan hikmah tersendiri bagi saya. Saya jadi sadar bahwa pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang penting, bukan main-main belaka. Bahwa semua mata pelajaran harus disampaikan dengan pengetahuan, meskipun PLKJ nampak tidak sesulit matematika. Bahwa apapun yang terjadi, manusia adalah manusia. Kesalahan adalah sesuatu yang lekat dengan manusia.
Tapi tetap saja, pertemuan saya dengan anak dan ibu Blakblakan itu membuat saya merasa tidak nyaman. Karena saya yang tadinya berpikir bahwa dunia ini begitu mudah dan sederhana tiba-tiba menjadi sangat teliti dan seksama akan segala tindakan yang saya lakukan, khususnya dalam melaksanakan pekerjaan saya sebagai guru. Saya tidak lagi mudah dan aman dalam melakukan segala gerak-gerik saya setiap kali mengingat tatapan dan cara mereka menunjukkan kebenaran ke hadapan saya.
Saya berharap saya dapat kembali saja ke kehidupan muda saya di mana saya melihat segala sesuatu dengan muda dan sederhana. Saat itu dunia begitu indah dan mudah ditebak. Seolah-olah kenyataan dengan mudah menampakkan wujudnya secara blakblakan ke kita tanpa perlu saya pikirkan benar atau salahnya.
Tapi sayangnya.... dunia tidak seblakblakan itu. Dan pertemuan dengan Nyonya dan Putri Blakblakan membuat saya terus berpikir.
Canberra, 28 September 2011

Minggu, 21 Agustus 2011

Short Story: Nenek Pernah Nasionalis


Nenek Pernah Nasionalis
Oleh: Rima Muryantina

Pada suatu hari di sebuah negeri, ditemukan seorang mayat wanita tua di sebuah kamar hotel. Wanita itu ditemukan memegang pistol di tangan kirinya dengan darah bercucuran dari kepalanya yang memang sudah tidak sekokoh kepala gadis-gadis muda yang dapat menengadah dengan tatapan tajam ketika berjalan karena mungkin kepala itu sudah terlalu lama digerogoti pikiran-pikiran yang terlalu banyak sepanjang eksistensinya di dunia ini. Bukan berarti itu adalah hal yang buruk, karena pada dasarnya kepala setiap manusia memang ditakdirkan untuk digerogoti oleh pikiran-pikirannya sendiri. Hanya saja, durasi penggerogotan ini mungkin sudah terlalu lama mengingat wanita ini sudah tidak muda lagi dan mengingat sejak muda pun ia telah menjadi wanita yang terlalu banyak berpikir.

Di tangan kanannya, polisi menemukan sepucuk surat tertulis di selembar kertas wangi berwarna ungu muda yang masih dapat tercium wanginya meskipun sudah bercampur dengan aroma darah yang bersimbah dari kepala sang wanita tua. Polisi menjadikan surat tersebut barang bukti dalam penyelidikan. Mereka berharap dengan membaca surat tersebut, mereka dapat memutuskan apakah kematian wanita tua tersebut benar-benar disebabkan oleh aksi bunuh diri atau mungkin sebenarnya telah terjadi pembunuhan. Berikut ini adalah isi surat tersebut:

Siapapun , tolong sampaikan pesan ini kepada anak-anak dan cucuku

Nenek pernah nasionalis.

Nenek lahir pada zamannya negeri ini sedang diperjuangkan kemerdekaannya. Oleh tangan ayah dan ibu Nenek sendiri. Jadi sejak sebelum ditiupkan roh ke dalam kandungan ibu Nenek pun, rasanya Nenek sudah nasionalis. Ayah Nenek yang mendoakan demikian. Beliau ingin Nenek nasionalis.
Sejak kecil Nenek selalu hormat setiap kali melihat bendera negara ini berkibar. Tidak peduli itu di sekolah, di puskesmas, di depan rumah pejabat yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah Nenek, di tempat umum lainnya, di rumah Nenek sendiri, bahkan saat Nenek melihat upacara bendera di televisi. Teman-teman dan tetangga Nenek selalu menertawakan Nenek. Beberapa dari mereka menjuluki Nenek “nasionalis berlebihan.”
Nenek tidak peduli.

Suatu hari Nenek ditugaskan mengibarkan bendera di sekolah. Nenek tidak berhasil karena langkah Nenek tidak serempak dengan petugas yang lain dan benderanya tersangkut di tengah-tengah tiang hingga lagu kebangsaan harus dinyanyikan sekitar tiga kali. Seantero sekolah menertawakan Nenek. Orang tua Nenek bahkan bilang, “Dasar kamu tidak nasionalis!” Rasanya  sakit sekali saat itu. Mereka tidak tahu bahwa Nenek sudah berusaha semampu Nenek.

Lalu seperti yang kalian tahu, Nenek menjalani hidup Nenek dengan cukup baik. Nenek lulus sekolah dan lulus universitas dengan gelar terbaik dan bahkan mendapatkan pekerjaan yang baik di masyarakat. Nenek senang karena akhirnya dapat berkontribusi terhadap masyarakat. Ya, sesekali memang ada konflik yang terjadi di negara ini. Nenek bahkan sadar penuh bahwa negara ini bukan negara yang sempurna. Nenek diperkenalkan dengan cara untuk mengelabui sesama manusia agar dapat bertahan dalam suatu institusi (mungkin suatu saat cucu-cucu Nenek akan mengerti). Kadang Nenek juga ikut melakukan hal-hal kejam yang waktu kecil Nenek benci. Tapi Nenek tidak peduli karena hal-hal kejam itu pun merupakan bagian dari proses yang Nenek harus lalui dalam berkontribusi terhadap negeri ini. Ya, sebesar itulah rasa cinta Nenek terhadap negeri ini. Maka dari itu, pahamilah kalau Nenek sekali-kali sering berteriak “Dasar tidak nasionalis!” pada kalian ketika kalian malas ikut upacara bendera atau ketika kalian tidak mau menemani Nenek menyemangati atlet nasional dalam ajang olimpiade. Nenek hanya mengingatkan kalian akan pentingnya nasionalisme. Sama seperti yang dilakukan ayah Nenek dahulu.

Jadi begitulah Nenek hidup dengan nasionalisme Nenek selama bertahun-tahun. Bahkan saat negara ini ditempa beberapa cobaan, baik itu cobaan politis, bencana alam, krisis ekonomi, krisis sosial, konflik antar etnis di berbagai daerah, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Dengan bangganya Nenek mengulang frase “Dasar tidak nasionalis!” pada kalian, para anak dan cucu, maupun pada generasi muda lain yang Nenek anggap tidak senasionalis Nenek.

Tapi entah kenapa dan entah sejak kapan, Nenek sudah lupa, mungkin juga karena sudah pikun. Yang Nenek tahu adalah beberapa tahun terakhir dalam hidup Nenek yang cukup panjang ini, Nenek merasa hampa dan tidak tahu lagi apa yang harus Nenek cintai dari negeri ini. Nenek pernah begitu bosan dan begitu pesimis menggonta-ganti saluran televisi dan mengomentari semua orang yang lebih muda dari Nenek yang berteriak-teriak tentang nasionalisme padahal Nenek tahu mereka melakukan hal-hal kejam atas nama nasionalisme. Sama seperti yang Nenek lakukan dulu, meskipun Nenek tidak terlalu ingat karena sudah pikun.  Jadi, seolah mengatai diri Nenek sendiri, Nenek menjerit, “Dasar generasi memalukan! Mau jadi apa bangsa ini?”

Lalu beberapa dari kalian, cucu Nenek, nampak tak senang dengan apa yang Nenek katakan. Lalu kalian mengatakan mantra yang dulu sering diucapkan oleh ayah Nenek dan oleh Nenek sendiri. “Dasar tidak nasionalis!” Lalu Nenek merasakan bahwa apa yang tumbuh dalam diri Nenek dahulu telah tumbuh juga di diri kalian. Dan Nenek tidak tahu harus merasa sedih atau bangga.

Seiring dengan berjalannya waktu, Nenek semakin pikun dan semakin tidak sadar dengan apa yang Nenek lakukan. Bila suatu hari kalian menemukan Nenek melakukan hal-hal yang gila atau menyaksikan Nenek mengakhiri nyawa Nenek sendiri, tolong simpan pesan ini baik-baik. Nenek hanya ingin dikenang sebagai orang yang pernah nasionalis. Meskipun kalian, para anak dan para cucu, sering merasa nenek telah kehilangan itu semua.

Salam hangat
Nenek

                Setelah selesai membaca tulisan tersebut, inspektur yang bertanggung jawab atas investigasi kematian nenek itu pun langsung memutuskan dengan lantang, “Ini bunuh diri.” Ia berjalan melalui beberapa bawahannya yang selalu mengiringinya dan bersungut, “Dasar wanita gila.” Salah satu dari bawahannya memperhatikan kembali surat itu sejenak. Agak ragu untuk mengungkapkan  pendapatnya dan takut mendapat celaan “dasar gila” dari atasannya, si bawahan akhirnya berujar, “Mungkin ini pembunuhan.”
                Pimpinannya menoleh padanya sejenak. Mengernyitkan dahi dan memainkan alis. Menatapnya beberapa menit dengan tatapan yang cukup serius untuk membuat sang bawahan tertunduk. Tapi inspektur tak mengucapkan apa-apa. Meski ia tak terlalu pikun untuk mengingat kata “Dasar gila!” yang bisa saja ia ucapkan kapan saja.

Canberra, 22 Agustus 2011

Sabtu, 06 Agustus 2011

Short Story: Legenda Si Ayam Tertawa

Legenda Si Ayam Tertawa
Oleh: Rima Muryantina

Pada zaman dahulu kala, ada sebuah desa yang sejahtera. Penduduknya cukup makmur karena apapun yang tumbuh dari tanah mereka dapat dijual dan uangnya dapat digunakan untuk memenuhi lebih dari sekedar kehidupan sehari-hari mereka. Para penduduk desa tetangga iri pada mereka karena mereka sangat beruntung. Orang-orang beruntung ini lebih dikenal dengan sebutan “Penduduk Negeri Ayam Jago.” Mengapa demikian? Sederhana saja. Di desa yang beruntung itu, ayam jago dianggap sebagai maskot keberuntungan. Setiap tahunnya para penduduk desa megadakan kompetisi sabung ayam jago untuk melestarikan tradisi leluhur mereka. Mereka menganggap tradisi ini membawa keberuntungan bagi desa mereka. Bagi mereka, selama mereka melanjutkan tradisi sabung ayam ini, “Desa Ayam Jago” akan selamanya makmur dan sejahtera.
Karena menjadi maskot kesejahteraan bagi desa tersebut, setiap ayam jago yang lahir di sana memiliki keistimewaan sendiri. Setidaknya, keistimewaan bagi keluarga ayam. Setiap keluarga ayam di desa tersebut akan sangat berbahagia apabila memiliki anak laki-laki. Tentu saja, mereka berharap suatu saat anak laki-laki mereka akan diadu dengan ayam jago lain untuk menjadi yang terkuat dan layak menjadi panutan dan junjungan seluruh warga desa. Ayam jago yang memenangkan kompetisi sabung ayam tahunan akan terpilih menjadi maskot keberuntungan yang dianggap membawa kesejahteraan bagi Desa Ayam Jago. Tidakkah prestasi tersebut sangat membanggakan? Keluarga mana, orang tua mana, yang tidak bangga melihat anak laki-lakinya dapat menjadi pahlwan bagi orang banyak?
Lantas bagaimana dengan yang kalah? Sesuai dengan keputusan para juri tiap tahunnya, ayam jago-ayam jago terbaik yang bertanding dalam kompetisi tahunan harus beradu sampai mati. Ada beberapa babak. Tapi semua ayam jago yang kalah, itu berarti dia telah mati di tangan ayam jago lain yang lebih kuat. Apakah ini menyedihkan? Tegakah sebuah keluarga atau sepasang orang tua mengorbankan nyawa anaknya hanya untuk      menjadi kebanggan dan pahlawan bagi orang banyak?
Jawabannya, ya. Tentu saja, kematian itu bukan apa-apa dibandingkan menjadi maskot yang membanggakan keluarga ayam sekaligus menyenangkan hati para penduduk Desa Ayam Jago. Seperti yang kita semua tahu, manusia menduduki strata tertinggi dalam kingdom animalia karena mereka berhak menamai makhluk-makhluk lain sesuai klasifikasi dan standar yang mereka tetapkan. Di Desa Ayam Jago ini ada sedikit perbedaan. Dalam acara tahunan sabung ayam ini, derajat ayam sebagai penghuni kingdom Animalia menjadi setingkat lebih tinggi dibandingkan manusia. Ini adalah momen berharga bagi para ayam. Mereka menjadi makhluk yang memegang alih kendali dan memperjuangkan kesejahteraan umat manusia. Oleh karena itu, tidakkah pertandingan-pertandingan sabung ayam ini layak dibayar dengan darah? Tentu saja. Bahkan ayam-ayam yang kalah bertarung dalam kompetisi ini pun tidak mati sia-sia. Mereka adalah pahlawan bagi manusia dan tentu saja “lebih dari sekedar pahlawan” bagi para ayam. Ayam-ayam yang kalah itu tidak mati. Mereka hanya gugur. Sementara itu, pengorbanannya akan dikenang sebagai sesuatu yang mulia bagi setiap ayam yang ada di Desa Jago Ayam. Lantas apakah hal semulia itu pantas dinyatakan sebagai sesuatu yang menyedihkan? Tentu tidak.
Lalu apakah semua ayam jantan yang sudah menginjak dewasa harus mengikuti kompetisi ini? Tidak. Hanya beberapa saja yang mendapat kehormatan untuk terpilih. Semua ayam jago yang terpilih untuk mengikuti kompetisi sabung ayam tahunan dinilai dari sebuah syarat yang sangat sederhana namun tidak mudah. Syarat itu adalah: para ayam jago yang terpilih haruslah para ayam jago yang rajin bangun pagi, lebih pagi daripada penduduk desa mana pun, dan berkokok membangunkan seisi desa. Hanya para perkokok-perkokok terbaiklah yang kelak diperbolehkan mengikuti kontes sabung ayam.
Sejak kecil, semua putra ayam di Desa Ayam Jago dilatih untuk bangun pagi dan berkokok dengan lantang untuk membangunkan para penduduk desa. Tentu saja, suara kokok mereka harus suara kokok yang bagus. Suara kokok yang dimaksud bagus di sini adalah suara kokok yang cukup lantang untuk membangunkan para penduduk desa, bahkan yang termalas sekalipun, tapi juga tidak merusak pendengaran para manusia, yang sebagian besar sebenarnya adalah pemalas, setidaknya di mata para ayam.
Di antara para ayam jago muda yang berlomba-lomba untuk menjadi pekokok terbaik agar kelak dapat bertarung dalam pertarungan suci yang membawa nama baik bangsa ayam di desa tersebut, konon ada seekor ayam jago muda yang berbeda dengan kawan-kawan sebayanya. Satria, nama ayam jago itu. Bukan, bukan orang tuanya yang menamakannya seperti itu. Para ayam  tidak perlu pusing memberi nama anak-anaknya. Mereka akan memanggil semua anak mereka dengan sebutan “sayang” tanpa harus kesulitan membedakan anak yang satu dengan anak yang lain. Pemilik peternakan tempat ia bernaunglah yang menamakannya seperti itu, dengan harapan bahwa Satria akan menjadi ayam jago bersuara paling lantang dan perkasa seantero Desa Ayam Jago sehingga dapat menjadi “ksatria” saat pertandingan sabung ayam tiba.
 Sayangnya, tidak sesuai dengan harapan, Satria tidak memenuhi kriteria sebagai ayam jago yang dapat membanggakan nama desanya. Satria selalu telat bangun. Bahkan lebih telat dari beberapa manusia yang ada di peternakan tersebut. Selain itu, suaranya juga tidak lantang. Sering kali ia mencoba berkokok, tapi hanya terdengar suara terputus-putus yang sama sekali tidak merdu. Bahkan suara Satria lebih terdengar seperti suara orang tertawa daripada seperti suara ayam jago yang gagah. Ia pun terlihat jauh lebih lemah daripada ayam jago lain di peternakannya. Apabila ia dipaksakan untuk diadu dalam sabung ayam, tentunya tak akan memerlukan waktu yang lama untuk menunggu kekalahannya.
Segala kelemahannya sebagai ayam jago inilah yang menyebabkan Satria jadi dikucilkan dan dicemooh di kalangan para ayam jago di desa. “Ayam jago cemen!” seru ayam jago terkuat di peternakannya. “Kamu tak pantas jadi ayam jago!” ejek ayam jago yang lain. “Kamu berkokok atau tertawa?” sindir salah satu ayam jago ketika Satria mulai mencoba berkokok.
Bukannya Satria tidak pernah mencoba untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Kenyataannya, setiap hari Satria selalu berlatih berkokok untuk memperbaiki suaranya. Ia bahkan  berusaha memilih-milih makanan terbaik yang dapat ia makan kalau-kalau itu mempengaruhi keadaan suaranya yang tidak seperti suara ayam jago pada umumnya. Akan tetapi berbagai usaha yang ia lakukan untuk memperindah suaranya tidak pernah berhasil. Bahkan ketika akhirnya Satria sudah berhasil bangun lebih pagi, ayam jago lain melarangnya berkokok karena suara kokokannya justru akan mengganggu keluarga pemilik peternakan.
Satria merasa malu terhadap dirinya sendiri. Ia malu terhadap orang tuanya yang tetap memanggilnya “sayang” sekalipun berulang kali ayam-ayam lain mengejeknya. Ia malu terhadap pemilik peternakan yang sudah memberinya nama spesial. Apabila pemilik peternakan tempat Satria bernaung ini sama dengan peternak-peternak pada umumnya, pastilah ia sudah memotong dan menggoreng ayam tidak berguna macam Satria untuk menjadikannya santapan yang lebih berguna daripada sekedar ayam yang tak dapat membangunkan majikannya dengan baik dan benar.
Tapi Satria adalah ayam yang beruntung. Pemilik peternakan ini melihat sesuatu yang berbeda dari sejak Satria menetas dari telur yang telah dieram induknya. Ia merasa Satria dapat membawa sesuatu yang baik bagi para ayam di peternakan itu dan bahkan bagi kesejahteraan Desa Ayam Jago. Mungkin ia sama saja dengan peternak lain, memang. Ia juga memotong ayam-ayam yang tidak layak dipertandingkan untuk sabung ayam. Tapi khusus kepada Satria, sang peternak ini memiliki rasa kasih sayang. Lebih dari kasih sayang antara peternak dan hewan ternaknya. Rasa kasih sayang itu sudah bagaikan rasa kasih sayang terhadap anaknya sendiri yang bercampur dengan harapan kelak Satrria akan jadi ayam yang sangat bermanfaat bagi desa mereka. Oleh karena itu, sekalipun Satria sering mengganggu seantero peternakan dengan suara kokoknya yang lebih mirip suara tawa, sang pemilik peternakan tetap merawatnya dan mengistimewakannya dibandingkan ayam-ayam lain. Sayangnya, hal inilah yang membuat Satria semakin dibenci dan dicemooh oleh ayam-ayam lain di peternakannya. Karena ia adalah seekor ayam tak berguna yang tak punya kelebihan apa-apa yang entah kenapa selalu diistimewakan.
*******
Oleh karena itulah Satria berusaha tegar melanjutkan hidup dan berlatih untuk memperbaiki kokokannya sambil menahan rasa malu dan sakit hati karena setiap hari diperolok oleh sesamanya. Ia terus menjalani kehidupan seperti itu sampai pada suatu hari saudara sepupu pemilik peternakan datang berkunjung. Ia memboyong keluarganya. Termasuk istri dan dua orang anaknya. Yang tertua laki-laki. Yang termuda perempuan. Kedua anak ini senang bermain-main memperhatikan sekeliling peternakan. Tapi saat terakhir kali mereka datang berkunjung ke peternakan tersebut, Satria masih terlelap di dalam telurnya. Oleh karena itu, ini adalah kali pertama Satria bertemu dengan kedua anak ini
Ketika ia ditemukan oleh kedua anak tersebut, Satria sedang melatih suaranya agar menjadi suara kokokan ayam yang bagus. Sayangnya yang terdengar malah suara yang terdengar seperti suara tawa yang tiak menyenangkan. Ketika kedua anak keponakan pemilik peternakan datang melintasi Satria yang sedang “tertawa” dengan suara kokokannya, Satria langsung merasa sangat malu dan berhenti berkokok.
“Kenapa berhenti? Ayo berkokok lagi,” ujar si anak laki-laki. Perkataan yang sangat tidak disangka-sangka oleh Satria.
“Suaranya lucu!” ujar si anak perempuan gemas yang dibenarkan oleh anggukan kepala kakak laki-lakinya. “Ayo, ayam! Berkokok lagi!”
Awalnya Satria agak ragu. Tapi melihat kedua anak tersebut sangat antusias menunggu suara kokokannya, akhirnya ia berkokok juga. Masih dengan suara ayam tertawa. Dan ketika anak-anak itu mendengarkan suara tawa Satria, mereka ikut tertawa bersamanya. Ketika Satria tertawa makin keras, anak-anak itu pun tertawa makin keras. Ini berbeda dengan tawa para ayam lain yang mengejek Satria setiap kali ayam malang itu mengeluarkan tawa bodohnya. Anak-anak itu tertawa bahagia dan bertepuk tangan setelah mendengar suara tawa Satria. Si anak laki-laki bahkan mengelus punggung Satria dan memanggilnya “ayam yang pintar.” Si anak perempuan berucap bahwa Satria adalah ayam terlucu yang pernah ia temui. Satria sangat senang melihatnya. Baru kali ini ia mendapat apresiasi atas kokokannya. Saat itu, hampir-hampir ia menangis karena terharu.
*******
            Pada saat makan malam, kedua anak tersebut menceritakan pada orang tuanya, dan juga pada keluarga pemilik peternakan bahwa mereka baru saja bertemu dengan seekor ayam terlucu dengan suara tawa yang menimbulkan perasaan bahagia di peternakan tersebut. Pemilik peternakan langsung tahu dari ciri yang diceritakan, bahwa ayam itu adalah Satria, ayam kesayangannya.
            “Kalian suka Satria? Tidak ada yang pernah suka dengan ayam itu sebelumnya kecuali aku,” tandas sang pemilik peternakan dengan wajah tertegun.
            “Ayam seperti itu sangat disukai di desa kami. Wajar anak-anak menyukainya,” ujar sepupu pemilik peternakan menjelaskan.
            “Bagaimana bisa ayam dengan suara terkekeh-kekeh seperti itu disukai di desa kalian? Aku pun tidak mengerti kenapa aku begitu menyayangi Satria,” sang pemilik peternakan terlihat semakin bingung.
            “Tentu saja bisa. Di desa kami bahkan ayam yang sanggup tertawa paling lama akan dianggap maskot kesejahteraan desa. Kami melakukan kontes ayam tertawa setiap tahun. Sama seperti desamu yang mengadakan kontes sabung ayam tiap tahunnya. Kontesnya akan diadakan dalam waktu dekat,” sang sepupu menjelaskan panjang lebar sambil menikmati makan malamnya.
            Mendengar hal tersebut, si pemilik peternakan langsung tertarik untuk mengikutsertakan Satria dalam kontes ayam tertawa di desa seberang. Mengetahui rencana ini, Satria terkejut dan bahkan berusaha melatih tawanya lebih lama, yang membuat jengkel ayam-ayam lain di peternakan tersebut karena mereka menganggap suara Satria itu jelek dan memalukan dan tidak pantas untuk dibanggakan dan disuarakan terus-terusan. Hal ini menyebabkan Satria semakin dimusuhi oleh ayam-ayam lain di peternakan. Tapi Satria tidak terlalu peduli karena ibunya tetap mendukungnya seperti biasa, begitu pula dengan keluarga pemilik peternakan dan keluarga sepupu pemilik peternakan yang terlihat amat antusias mengikutsertakan Satria dalam kontes ayam tertawa.
            Satu hal yang membuat Satria bimbang adalah keengganan ayahnya untuk langsung mendukung tindakan Satria kali ini. “Bukannya ayah tak bangga padamu. Tapi ayah akan jauh lebih bangga bila kamu dapat bertarung dan berkorban nyawa untuk desa ini. Itu jauh lebih mulia daripada tertawa untuk desa lain,” ujar sang ayah jujur kepada putranya, yang tidak pernah ia beda-bedakan dengan putranya yang lain karena bagi para hewan, sejelek apapun mereka, anak tetaplah anak.
            Satria, karena telah terbiasa menghadapi para ayam yang berseberangan dengannya sepanjang hidupnya, mewajari sudut pandang ayahnya kali ini. Tapi ia pun mengutarakan sudut pandangnya bahwa ia sudah tidak sanggup berusaha berkokok dengan cara yang berbeda dengan cara kokokannya. Ia sudah putus asa untuk berusaha keras menjadi sama seperti ayam-ayam lain. Dan ia melihat kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dengan menjadi dirinya sendiri. Ia tak pernah mendapatkan kesempatan seperti ini sebelumnya. Dan atas alasan itulah, sang ayah dapat berkompromi dan mengizinkan putranya mengikuti kontes ayam tertawa.
            Akhirnya Satria pun mengikuti kontes ayam tertawa. Di kontes tersebut, ia bertemu dengan ayam-ayam yang jago tertawa, sama seperti dirinya. Tidak, mereka tidak memandang rendah ketika bertemu Satria. Mereka saling menyapa, mengajak Satria bercanda, dan berusaha membuat kondisi yang nyaman bagi semua ayam yang ada, termasuk Satria. Ketika Satria bertanya mengapa mereka begitu baik padanya, padahal baru saja mengenal, seekor ayam lain menjawab, “Kita akan tertawa lebih lama bila kita mengingat hal-hal yang membuat kita bahagia. Jadi kita harus selalu saling membuat bahagia agar dapat memberikan tawa terbaik di kontes ini.”
            Termotivasi dengan kebaikan hati para ayam lain, Satria pun tertawa sekeras mungkin. Dengan suara aslinya, tanpa berusaha menjadi orang lain. Ia tertawa begitu lama saking bahagianya. Ia tak pernah merasakan kebahagiaan begitu menari-nari dalam dirinya sebelumnya. Oleh karena itu, ia terus tertawa. Jauh lebih lama daripada tawa ayam-ayam lain. Saat ayam-ayam lain sudah menyerah, ia tetap tidak lelah tertawa karena rasa bahagia itu masih terus menari-nari dalam dirinya.
Satria terus tertawa hingga petang. Satu-satunya yang membuatnya berhenti tertawa hanyalah suara tepuk tangan para penduduk desa yang sangat bangga melihat kegigihannya dan suara sorak sorai ayam-ayam lain yang sudah kalah tapi terus mendukung Satria. Sorak sorai itu begitu meriah dan ramai sampai-sampai Satria tertegun tak percaya. Dari kejauhan, ia melihat majikannya, sang pemilik peternakan dari Desa Ayam Jago, menitikkan air mata bahagia dengan wajah penuh keyakinan dan bangga pada ayam kesayangannya.
*******
            Satria telah menang. Ia membawa pulang pita penghargaan yang dikalungkan ke lehernya. Ia menjadi pahlawan di desa seberang meskipun ia tidak berasal dari sana. Sesampainya di peternakan tempat asalnya, ia disambut dengan berbagai reaksi. Kedua orang tuanya, tetap bangga padanya, seperti biasa. Ayam-ayam lain, ada yang berbalik mendukungnya. Ada yang penasaran seperti apa kontes ayam tertawa. Para ayam yang bersuara tidak terlalu bagus seperti dirinya terinspirasi untuk turut berusaha mengikuti kontes ayam tertawa. Ada yang diam-diam sebenarnya selalu mendukung Satria dan baru berani menunjukkan dukungannya ketika keadaan menjadi lebih baik. Ada pula yang justru berniat untuk pindah ke desa lain saja karena sebenarnya takut untuk bertarung pada saat kontes sabung ayam. Dan di antara semua itu, jumlah yang paling banyak tentunya ayam-ayam yang masih membenci Satria, atau justru semakin membenci Satria karena menganggapnya merendahkan derajat para ayam dengan membuat seolah-olah terkekeh-kekeh itu lebih baik daripada berkorban nyawa.
            Satria menerima semua perbedaan tersebut tanpa merasa yang dilakukannya lebih tinggi daripada yang dilakukan ayam-ayam lain. Dan pertandingan sabung ayam tetap dilaksanakan karena masih banyak yang menghargai nilai-nilai bersejarah dari pertandingan tersebut. Tapi Satria tidak kecewa. Karena pada akhirnya ia memiliki kesempatan untuk dapat melakukan sesuatu yang berharga tanpa harus berusaha terlalu keras untuk menjadi sama seperti ayam-ayam lain. Dan sejak saat itulah, Satria menjadi salah satu legenda di antara para ayam di desanya. Meski mungkin bukan legenda yang paling disukai semua ayam.

Canberra, 7 Agustus 2011